🌜 Cerita Alfiyah Ibnu Malik

Dalambait pertama nadhom Alfiyah bab mukadimah (pendahuluan), Ibnu Malik menggunakan lafaz قال yang merupakan fi'il madhi yang di dalamnya terkandung masa lampau atau sudah terjadi. Hal ini sangat berbeda dengan karangan-karangan para ulama lain, yang lazimnya menggunakan lafaz fi'il mudhori yang di dalamnya terkandung masa yang sedang LantunanNadhom Alfiyah sempat bersliweran di media sosial TikTok. Liriknya sendiri bersumber dari Kitab Alfiyah Ibnu Malik, sebuah kitab Nahwu Shorof yang berisi syair 1000 bait. Itu sebabnya syair ini disebut "Afiyah" yang artinya seribu. Sebagai informasi, Ilmu Nahwu adalah ilmu yang berisi kaidah-kaidah atau tata bahasa Arab. Ialantas membacakan bait Alfiyah berikutnya yang berbunyi wa taqdi ridhan bi ghairi sukhti. Artinya, kitab yang dikarang oleh Imam Ibnu Malik itu dapat mendatangkan ridha dari Allah. Itulah etika santri dalam mencari ilmu. "Mencari ilmu itu salah satu tujuannya adalah mencari keridhoan Allah, bukan untuk yang lain. Belikoleksi Kitab Alfiyah Ibnu Malik online lengkap edisi & harga terbaru Juli 2022 di Tokopedia! ∙ Promo Pengguna Baru ∙ Kurir Instan ∙ Bebas Ongkir ∙ Cicilan 0%. Danjuga orang yang hafal Alfiyah itu punya daya tarik tersendiri.Wallohu a'lam. Banyak sekali versi yang tersebar tentang 2 bait tambahan dalam nadzom Alfiyah Ibnu Malik, salah satunya diceritakan dengan jelas dalam Syarah Alfiyah itu sendiri, yakni dalam kitab Qodhi Al-qudhot. Namun inti nya sama, yakni cerita yang mengandung pesan tentang Kitab Alfiyah Ibnu Malik, kitab yang satu ini merupakan sebuah fenomena yang tak pernah habis walau sudah berumur lebih dari 2 abad. Kitab ini dikarang oleh allamah syeikh Jamaluddin bin Abdulloh bin Abdulloh bin Malik. Sama halnya dengan kitab-kita terkenal lain dalam Alfiyah Ibnu Malik juga ada sebuah cerita menarik yang Artinya Dan kitab Alfiyah itu akan menarik keridhoan yang tanpa didasari kemarahan #Dan kitab Alfiyah ini lebih unggul dari kitab Alfiyahnya Ibnu Mu'thiy. Seketika semua hafalan dalam memori Imam Ibnu Malik lenyap. Beliau tidak ingat satu huruf pun. Imam Ibnu Malik pun merasa cemas, sedih, bingung, dan tak tahu apa yang harus beliau lakukan. Pengarang Syekh Bahauddin 'Abdullah bin 'Aqil, al'Aqli, al-Mishri, al-Hamdani (Ibnu Aqil). Bahasa Isi: Bahasa Arab, dilngkapi dengan makna jawa ala pesantren. Jenis File: Pdf. Jumlah File: 1. Ukuran File: 56,12 Mb. =========. Selain Syarah Ibnu Aqil, Imam Al Makudi juga telah mengarang kitab yang juga berisi penjelasan / syarah dari IbnuMu'ti adalah salah satu guru daripada Ibnu Malik yang mengarang 1000 Nadzam juga yang bernama "Alfiyah Ibnu Mu'ti". Seusai Ibnu Malik menulis baris ke-5 seketika itu hafalan 1000 bait lainya hilang, kemudian untuk mengatasi kesedihan atas hilangnya hafalan, Ibnu Malik pergi berziaroh ke makam Ibnu Mu'ti yakni gurunya. . Download Alfiyah Ibnu Malik Alfiyah Ibnu Malik adalah buku syair/nadhom tentang gramatika bahasa Arab nahwu dari abad ke-13. Kitab ini ditulis oleh seorang ahli bahasa Arab kelahiran Jaén, Spanyol dulu disebut Andalus yang bernama Ibnu Malik. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Jamal ad-Din Muhammad ibn Abdillah ibn Malik al-Tha’i al-Jiyani al-Andalusi. Alfiyah yang artinya seribuan’, merujuk pada jumlah butir bait pada kitab ini yang terdiri atas 1002 bait. Ada sebuah cerita mengenai proses pembuatan kitab ini. Di saat Ibnu Malik menulis nadhom ini lalu beliau sampai pada bait ke-5 dari nadhom ini yakni ”wa taqtadli ridlon bi ghairi sukhthi faiqatan alfiyyata ibni Mu’thi.” Yang memiliki arti kitab ini membuat pembaca ridlo mudah dipahami tanpa adanya rasa geram, seraya kitab ini mengungguli alfiyahnya Ibnu Mu’thi. Lalu mendadak Ibnu Malik pun tidak bisa melanjutkan tulisannya karena lupa. Berbagai hal telah dilakukan oleh Ibnu Malik untuk mengembalikan ingatannya mengenai pengetahuannya tentang Ilmu Nahwu dan bait yang telah ia hafalkan di luar kepala tersebut. Namun tidak membuahkan hasil. Setelah beliau merasa tertekan dan kebingungan, akhirnya beliau menyadari apa yang telah beliau lakukan yakni merendahkan Kitab Nahwu Alfiyah miliki Ibnu Mu’thi adalah salah. Sehingga Ibnu Malik mendoakan kepada Ibnu Mu’thi dan menambahkan pujian terhadapnya pada kitab karangan Ibnu Malik sendiri melalui dua bait berikut Download Juga Download Syarah Ibnu Aqil وَهُوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلَا * مُسْتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلَا وَاللّهُ يَقْضِي بِهِبَاتٍ وَافِرَةْ * لِيْ وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الْأَخِرَةْ Ia Ibnu Mu’thi mendapatkan keutamaan sebab lebih dahulu, serta berhak mendapatkan pujianku yang indah Semoga Allah menetapkan pemberian-pemberian yang sempurna, kepadaku dan dia dalam derajat akhirat Setelah menambahkan dua bait tersebut yang sebenarnya di luar rencana. Ibnu Malik mulai teringat hafalannya dan mampu melanjutkan karangan nadham alfiyah lagi. Sehingga jumlah bait lafiyah milik Ibnu Malik tidaklah genap seribu melainkan 1002 bait. Untuk Download Alfiyah Ibnu Malik silakan Klik link dibawah. Ada dua versi, pertama nadhoman tanpa makna dan yang kedua nadhoman dengan makna pesantren. Download Alfiyah Ibnu Malik Kosongan Download Alfiyah Ibnu Malik Makna Pesantren Oleh Muhammad Farid Wajdi, Related Post Kitab Kuning yang Wajib dipelajari Santri dan Ustadz – Kitab Alfiyah Ibnu Malik adalah kitab nahwu shorof yang lengkap, ditulis dalam bentuk nadhom syair. Kenapa dinamakan Alfiah? Karena terdiri atas bait. Kitab ini umum dipelajari di Pondok Pesantren bersama dengan Kitab Al-ajurumiyah dan Imriti. Kitab Alfiyah Ibnu Malik berisi tentang kaidah gramatika Bahasa Arab, disusun oleh Syekh Muhammad bin Abdullah bin Malik–lebih familiar disebut Imam Ibnu Malik–dalam bentuk nadham. Untuk membaca nadham Alfiah, biasanya butuh waktu sekitar satu setengah jam untuk dapat menyelesaikan 1002 baitnya. Kitab Syarh Alfiah Ibnu Malik. foto ist/* Nadham Alfiah telah menjadi karya yang sangat fenomenal, digemari santri dan pelajar muslim karena membantu memahami kaidah Bahasa Arab. Secara keseluruhannya Alfiah Ibnu Malik berisi tentang kaidah gramatika Bahasa Arab atau lazim disebut Nahwu Shorof. Keunikan kitab Alfiah ini adalah penempatan kata dan contoh dalam nadzom yang tidak sembarangan, melainkan mempunyai maksud dan isyarah tersendiri, semisal kalam hikmah, falsafah dan nasehat hidup. Meski disebut “Alfiah” yang berarti seribu, namun pada kenyataannya, jumlah bait dari nadzom Alfiyah itu sendiri adalah 1002 bait. Terkait tambahan 2 bait dalam mukadimah, ada cerita menarik dibalik penambahan 2 bait tersebut. Tentang arti dari sebuah rasa bangga, tentang ta’dzim kepada sang guru, tentang tulusnya sebuah karya, juga tentang adab terhadap guru yang sudah berpulang ke rahmatullah. Nadzom Alfiah Ibnu Malik. foto ist/* Imam Ibnu Malik dalam menyusun nadzom Alfiyah ini terinspirasi dari almarhum sang guru, Syekh Ibnu Mu’thiy, yang sudah terlebih dahulu menyusun sebuah nadzom yang berjumlah 500 bait. Karya Syekh Ibnu Mu’thiy itu, “Alkaafiyah”, mashur disebut “Alfiyah Ibn Mu’thiy”. Disebut Alfiyah, karena terdiri dari 1000 satar. Adapun satar yaitu setengah bagian dari satu bait. Ketika beliau sudah mantap menyimpan semua gambaran nadzom Alfiyah dalam memori otaknya, beliau pun memulai untuk menulis untaian nadzom yang indah tersebut. Hingga pada saat beliau menulis bait ke lima, bagian satar ke sepuluh yang berbunyi; وتَقتضِى رضًا بغير سخطٍ فائقةً ألفيّةً ابن معطى Artinya Dan kitab Alfiyah itu akan menarik keridhoan yang tanpa didasari kemarahan Dan kitab Alfiyah ini lebih unggul dari kitab Alfiyahnya Ibnu Mu’thiy. Seketika semua hafalan dalam memori Imam Ibnu Malik lenyap. Beliau tidak ingat satu huruf pun. Imam Ibnu Malik pun merasa cemas, sedih, bingung, dan tak tahu apa yang harus beliau lakukan. Hingga akhirnya beliau tertidur pulas dan bermimpi bertemu seorang kakek yang berpakaian serba putih. Kakek itu menepuk pundak Syekh Ibnu Malik sambil berkata, “Wahai anak muda, bangunlah! Bukankah kamu sedang menyusun sebuah kitab?” “Iya kek,” seketika Imam Ibnu Malik terbangun. “Namun aku lupa semua hafalanku, sehingga aku tak mampu tuk melanjutkannya” jawabnya. Kakek itu pun bertanya, “sudah sampai mana kamu menulisnya?” “Baru sampai bait kelima”, beliau menjawab sambil membacakan bait yang terakhir. “Bolehkah aku melanjutkan hafalanmu,?” tanya kakek tersebut. “Tentu saja,” jawab Imam Ibnu Malik. Kakek itupun membacakan sepasang bait; فائقةً من نحو ألف بيتي والحيّ قد يغلب ألف ميّتي Artinya Seperti halnya mengungguli dalam seribu bait Orang yang masih hidup, terkadang mengalahkan 1000 orang yang sudah meninggal. Terjemah Muqaddimah Alfiah Ibnu Malik. foto ist/* Seketika setelah mendengar satu bait yang diucapkan oleh kakek tersebut, Syekh Ibnu Malik pun terbangun dan beliau pun menyadari satu hal, bahwa kakek dalam mimpinya itu tak lain adalah gurunya sendiri, Syekh Ibnu Mu’thiy yang dengan jelas menegur Syekh Ibnu Malik dengan sindiran di bait tersebut. Beliau juga sadar, bahwa ungkapan bangga yang beliau ungkapkan dalam bait kelima tersebut ternyata merupakan perasaan takabbur yang timbul dari nafsunya, perasaan yang secara tidak langsung telah menerobos sebuah adab, akhlaqul karimah seorang murid kepada gurunya. Sadar akan hal itu, Imam Ibnu Malik pun bertaubat kepada Sang pencipta atas rasa takabburnya. Beliau juga hendak meminta maaf kepada Imam Ibnu Mu’thiy, beliau berziarah ke makam Syekh Ibnu Mu’thiy. Selepas berziarah, beliau pun hendak melanjutkan karangan tersebut dengan menambahkan 2 bait di bagian mukadimah yang pada awalnya tidak masuk dalam rencana, dengan harapan bahwa hafalannya akan pulih kembali. Dua bait tersebut berbunyi seperti ini وهو بسبق حائز تفضيلا مستوجب ثنائي الجميلا والله يقضي بهبات وافرة لي وله في درجات الآخرة Artinya Dan dia Imam Ibnu Mu’thiy memang lebih dahulu dan mendapatkan keunggulan. Dia juga pantas mendapatkan pujian legitimasi yang sangat baik dariku. Semoga Allah memberikan anugerah yang sempurna untukku dan juga beliau dalam derajat yang tinggi di akhirat kelak. Secara ajaib, semua memori hafalan nadzom yang ingin beliau tulis itu pun kembali tergambar jelas di otak dan hatinya. Beliau pun sangat bersyukur dan kemudian melanjutkan karangannya. Hingga akhirnya terciptalah sebuah mahakarya yang terkenal di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Nadzoman yang sangat popular dikalangan santri, khususnya santri salaf. Dan sampai saat ini pun, masih banyak santri yang menghafalnya dalam hitungan bait yang berbeda-beda. Dapat dipastikan bahwa santri yang menghafalkan “Alfiah Ibnu Malik” telah sempurna penguasaan gramatika Bahasa Arabnya. Wallahu a’lam bish-shawab. * * Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Kitab Kuning/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep. - Advertisement - Views Oleh Abdul Muiz Syaerozi Alfiyyah Ibnu Malik demikian populer dan melegenda. Kitab ini di kenal dibelahan dunia, baik daratan timur maupun barat. Di barat, “The Thousand Verses” nama lain dari kitab Alfiyyah Ibnu Malik ini dijadikan panduan utama di bidang kajian linguistik Arab. Di Indonesia, Alfiyyah Ibnu Malik juga di kaji diberbagai daerah. Pesantren-pesantren yang tersebar di wilayah Nusantara hampir tidak ada yang menyingkirkan peranan kitab ini. Semua pesantren menempatkan Alfiyah Ibnu Malik sebagai rujukan utama. Ia menjadi kitab yang paling dominan dalam study gramatika-mortofologi Arab. Besarnya peranan Alfiyyah Ibnu Malik tampaknya menjadi titik puncak bagi harapan si pengarang. Ibnu Malik pernah mengungkapkan melalui satu bait dalam nadzomnya; “Waqad yanubu anhu ma alaihi dal kajidda kullal jiddi wafrokhil jadal”. Nadzom ini seolah-olah mengisyaratkan keinginan Ibnu Malik bahwa Alfiyyah yang benar-benar telah menggantikan perannya munjukkan seperti sebuah langkah penuh keseriusan dan kebahagian yang tiada tara. Harapan akan manfaat kitab Alfiyyah Ibnu Malik bagi dinamika ilmu keislaman juga pernah diungkapkannya melalui salah satu bait dalam nadzomnya; “Wallahu Yaqdhi bihibatin waafiroh li walahu fi darojatil akhiroh”. Semoga dengan ampunan yang sempurna, Allah memberikan aku dan dia Ibnu Mu’thi sebuah drajat tinggi di akhirat. Peran penting Alfiyyah Ibnu Malik tidak hanya di tuntunjukkan oleh geliatnya yang tinggi di Andalusia, melainkan juga pengaruhnya bagi pembentukan karakteristik dan corak keilmuan lainnya. Misal, tafsir al-Makki Ibn Abi Thalib al-qaysi, atau Tafsir al-Muharrar al-Wajiz karangan Ibnu Athiyyah. Tafsir-tasir karangan ulama Andalusia itu ternyata banyak dipengaruhi oleh mencuatnya Alfiyyah Ibnu Malik di daratan tersebut. Ini ditandai dengan cara penafsiran Al Qur’an dengan menggunakan pendekatan Nahwu- Shorof. Tidak hanya itu. Alfiyah Ibnu Malik sebagai pusat perhatian dunia dalam konteks keilmuan gramatika-mortofologi Arab juga di buktikan dengan munculnya kitab-kitab kembangan. Audhah al-Masalik, Taudhih al-Maqa’shid, Manhaj as-Salik, Al-Maqashid as-Syafi’iyyah, syarakh Abu Zayd al-Makudi dan lain-lain adalah kitab reproduksi Alfiyyah Ibnu Malik. Kitab-kitab tersebut merupakan penjelasan secara detail tentang nadzom-nadzom Alfiyah, baik dikemas dengan model Syarah maupun Hasyiyah. Begitu banyak orang yang cenderung mengkajinya, sampai-sampai Ibnu Malik sebagai pengarangnya dinobatkan sebagai Taj ulama an-Nuhaat Mahkota Ilmu Nahwu. Alfiyyah Ibnu Malik adalah karya monumentalnya. Lalu, bagaimana perjalanan intelektual pengarang Alfiyah Ibnu Malik? Dan bagaimana perkembangan Alfiyah di Indonesia saat ini?. Biografi Intelektual Ibnu Malik Ibnu Malik memilki nama lengkap Abu Abdillah Jamaluddin Muhammad ibnu Abdullah ibnu Malik al-Tha’i al-Jayyani al-Andalusi. Penisbatan kata al-Jayyani al-Andalusi pada dirinya adalah penisbatan dimana daerah ia berasal. Abdillah kecil lahir di kota Jayyan, salah satu kota utama di Andalusia Spanyol bagian Selatan, pada tahun 1203 M. Atau pada bulan Sya’ban tahun 600 H. Ia dikenal sebagai anak yang cerdas. Sejak kecil Abu Abdillah Jamaluddin Muhammad telah berhasil menghafal al Quran dan ribuan hadis. Karenanya, ia disayang banyak guru. Mula-mula, Ibnu Malik belajar pada ulama-ulama tersohor dikota kelahirannya, seperti Tsabit bin Khiyar, Ahmad bin Nawwar dan Abdullah as-Syalaubini. Dari ketiga tokoh itu, Ibnu Malik kecil memperoleh ilmu-ilmu keislaman. Seiring dengan usianya yang bertambah, Ibnu Malik sangat rajin dan penuh semangat. Ia berhasrat mendalami ilmu-ilmu keislaman yang populer dimasanya, seperti Hadis dan Tafsir. Namun karena situasi politik yang kurang mendukung, Ibnu Malik harus rela meninggalkan kota kelahirannya. Jayyan pada 1246 M jatuh ke tangan tentara Castella. Perjalanannya cukup panjang. Dinasti Muwahhidun tidak lagi menjadi penguasa yang kokoh. Satu persatu daerah kekuasaannya di semenanjung Andalusia jatuh ke pihak lain. Pertama-tama Toledo; kota pusat ilmu pengetahuan di Spanyol Utara, kemudian disusul Huesca. Pada tahun 1119, giliran Zaragoza Sarqasthah terlepas dari tangan Muwahhidun. Lalu Counca pada tahun 1177 M. Tidak hanya kota-kota itu, Silves Syalb, Merida, Bajah atau Badajos, Ibza dan Cordoba jatuh pula ke tangan tentara Castella. Semua ini terjadi pada tahun-tahun yang berbeda. Kemudian pada tahun 1234 Giliran kota Miricia dan kota Tolavera pada tahun 1236 M. Kota Denia dan Lisbona juga jatuh ketangan pihak lain sebelum akhirnya kota Jayyan juga jatuh ketangan tentara Castella. Situasi politik inilah yang memaksa Ibnu Malik harus meninggalkan kota kelahirannya. Ibnu Malik hijarah ke Damaskus, sebuah kota dimana Malik pertama kali singgah sedang mengalami pergeseran kekuasaan; dari dinasti Ayubiyyah ke dinasti Mamalik. Bagi Ibnu Malik, pergeseran ini membawa berkah tersendiri. Pasalnya, Dinasti Mamalik adalah dinasti kuat dengan sitem keamanan yang terjamin sehingga dia dapat mengerahakan segala kemampuannya Badzlul wus’i untuk mengais lebih dalam tentang ilmu –ilmu keislaman dengan leluasa. Di Damaskus, Ibnu Malik justru memalingkan orientasinya. Awalnya hendak memperdalami ilmu Hadis dan Tafsir, tetapi belakangan cenderung ke ilmu nahwu dan shorof. Perubahan orientasi keimuan Ibnu Malik dilatari oleh rasa ingin tahu tentang fenomena struktur bahasa arab yang ia temui berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain. Padahal, gramatikal arab sangat penting perannya dalam memahami al-qur’an dan Hadis sebagai sumber keilmuan. Sungai disusuri, laut pun hendak di arungi. Demikian pribahasa yang paling tepat untuk menggambarkan sosok Ibnu Malik. Belum puas mendalami ilmu nahwu dan shorof di Demaskus, Ibnu Malik melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke kota Hallab Aleppo,; Syiria Utara. Di kota ini Ibnu Malik belajar kepada Muwaffiquddin ibnu Ya’isy dan Ibnu Amri’un al-Hallabi. Berkat kecakapannya mengkomparasikan teori-teori nahwu-shorof madzhab Iraq, Syam Masyriq dan Andalusia Maghrib, karir intelektual Ibnu malik kian di perhitungkan di kedua kota itu. Ia di kenal dan dinobatkan sebagai taj’ulama an-Nuhat mahkota ilmu nahwu. Ia kemudian diangkat menjadi dosen di madrasah kota Hamat selama beberapa Tahun. Namanya mulai kesohor. Sultan al-Maliku as-Sholih Najmuddin al-Ayyubi, seorang penguasa Mesir, meminta Ibnu Malik mengajar di Kairo Mesir. Ia menetap di Kairo untuk beberapa tahun hingga akhirnya kembali ke Demaskus. Di kota ini, sampai akhir hayatnya, Ibnu Malik menggembleng murid-muridnya yang terkenal, seperti Badruddin Ibnu Malik, Ibnu Jama’ah, Abu Hasan al-Yunaini, Ibnu Nahhas, dan imam an-Nawawi. Selain karya monumentalnya; Alfiyyah Ibnu Malik, Abu Abdillah Jamaluddin Muhammad ibnu Abdullah ibnu Malik al-Tha’i al-Jayyani al-Andalusi juga mengarang banyak kitab antara lain, al-Muwashal Fi Nadzm al-Mufashsal, Sabk al-Mandzum wa-fakk al-Makhtum, Ikmal al-Alam bi Mutslats al-Kalam, Lamiyah al-Afal wa-Syarhuha, al-Muqoddimah al-Asadiyah, iddah al-Lafidz wa-umdah al-Hafidz, al-Itidha fi az-Zha wa ad-Dhad dan irab Musykil al Bukari. Kebanyakan kitab-kitab yang dikarangnya ini mengetengahkan tema-tema Linguistik. Reproduksi Alfiyyah Ibnu Malik di Indonesia Di Indonesia, Alfiyyah Ibnu Malik disambut antusias. Dari dulu hingga kini pesantren-pesantren yang tersebar di berbagai wilayah mengkaji kitab ini. Bahkan, dalam pandangan masyarakat pesantren, seseorang akan dikatakan alim jika dia benar-benar telah memahami dan sekaligus hafal nadzom-nadzom Alfiyah secara keseluruhan. Kompetisi para santri yang di wujudkan dalam bentuk lomba-lomba atau musabaqoh hafalan Alfiyyah membuktikan pentingnya Alfiyyah di mata masyarakat pesantren. Bagi para pemenang, tidak hanya mendapatkan medali secara material, melainkan pula hadiah sosial. Pemenang akan dianggap sebagai santri yang cerdas dan pandai. Selain di hapal dan di pahami, Kitab Alfiyah Ibnu Malik juga di kembangkan. Seperti di pondok pesantren Lirboyo Kediri, Pondok Pesantren Ploso, Pondok Pesantren Sarang Rembang, Pondok Pesantren Tegal Rejo Magelang, Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dan pesantren-pesantren lainnya. semua kitab-kitab reproduksi itu, kebanyakan tanpa mencantumkan nama penyusun dan hanya mencantumkan nama penulis khotnya. Paling tidak, ada tiga model kitab reproduksi Alfiyah Ibnu Malik yang berkembang di pesantren. Pertama, model pembahasan menyeluruh. Model ini berusaha menjelaskan perkalimat dari lafadz-lafadz atau kalimat-kalimat yang tercantum di dalam nadzom Alfiyyah Ibnu Malik. Kedua model penjelasan terbatas. Model ini hanya memaparkan atau menjelaskan kalimat-kalimat yang dianggap perlu dipaparkan secara naratif. Dan terakhir adalah model penjelasan pernadzham. ini lebih cenderung menjelaskan satu atau beberapa nadzhom yang masih berbicara dalam satu tema. Secara teknis, penulisan kitab-kitab reproduksi Alfiyah Ibnu Malik ada yang menggunakan bahasa arab dan ada pula yang menggunakan arab pegon. Namun kesemuanya, tetap mengacu pada kitab-kitab garamatika Arab karya ulama-ulama timur tengah sebagai bahan rujukannya. Hal ini mungkin karena belum ditemukannya kitab-kitab gramatika-mortofologi Arab karya ulama-ulama Nusantara masa lalu. Dan yang paling menarik adalah penamaan atas kitab-kitab kembangan Alfiyah itu. Di pesantren Babakan Ciwaringin misalnya, kitab itu di istilahkan dengan takriran. Ini berbeda dengan pesantren Lirboyo. Di Lirboyo, istilah yang digunakan adalah Taqrir. Begitu pula di pesantren Tegal rejo. Pesantren ini menggunakan istilah tahrir. Perbedaan itu, apakah sebatas perbedaan dialek atau karena memang mempunyai makna yang beda sama sekali. Ini tentu harus mendapatkan perhatian secara khusus. Wallahu alam bissawab.

cerita alfiyah ibnu malik